Ranting [2]

 jejak edisi 04 [bagian 2]

Oleh: Nafisah FB

“Wah, gimana ini, Pakde?! Masa’ yang sudah jelas nebang pohon enggak pake’ ijin bisa bebas?!”

Ngatno menghentakkan telapak tangan kanannya ke atas lembaran koran. Tangannya yang lain sedang memegang rantang plastik tempat makan siangnya.

“Bisa habis hutan kita! Nanti, yang disalahkan kita-kita, petani. Gitu?” Ngatno melanjutkan sambil tangannya menyuap nasi ke mulutnya.

Pakde Danu yang sedang menghirup kopi menengok ke Ngatno. Firman baru saja akan membuka rantang yang baru diantar Sarji.

Pakde Danu mengambil surat kabar dari hadapan Ngatno. Dia membaca, “Mr. Adek Lin Ter Alis divonis bebas dari dakwaan illegal logging setelah hakim menilai semua berkas dan penjelasan para saksi tidak cukup menjadi bukti dakwaan.”

            Setelah itu tidak ada suara. Pakde Danu terpekur. Dia terus menelusuri kata demi kata di surat kabar itu. Firman menoleh ke Pakde Danu. Air muka Pakde Danu perlahan berubah. Urat wajahnya menegang.

            “Sampah!”

Pakde Danu tiba-tiba berteriak marah. Dia membanting koran ke atas bale dangau lalu beranjak meninggalkan dangau. Ngatno dan Firman hanya saling pandang.

            “Pakde kenapa, Man?”

            “Ndak tahu, Mas,” jawab Firman.

            Firman sebenarnya bukan sama sekali tidak bisa meraba alasan kemarahan Pakde Danu. Dia hanya ragu apakah memang itu yang menjadi alasannya.

            Tiga tahun yang lalu Pakde Danu ditahan selama sebulan karena tertangkap “Satpam” hutan menebang sebuah batang pohon. Bukan yang besar. Hanya yang berukuran sedang. Bukan kayu yang mahal. Hanya batang kayu tanpa daun milik pohon yang kulitnya melayu. Pakde Danu ingin menjual potongannya untuk mengganjal perut cucu dan istrinya.

            “Aku memang salah, Man. Aku mencuri milik negara. Aku rela ditahan.” Begitu Pakde Danu bilang waktu Firman dan Lastri menemani Bude Tarsih menjenguk Pakde Danu di penjara saat itu.

            Firman menghela nafas panjang. Ingatan itu tidak akan bisa hilang.

“Apa mungkin ya itu yang bikin Pakde tadi marah?” batin Firman.

Firman tidak melanjutkan percakapan batinnya karena Ngatno memperhatikannya. Firman segera menuntaskan makan siang.

oooOooo

            “Eh, Ji! Itu ada batang kayu di situ! Kita ambil saja. Yuk!”

            “Eh, Tung. Jangan!”

            Sarji tergopoh mengejar Untung yang berlari menuju sebuah pohon. Kumpulan ranting yang diikat apa adanya yang dibawanya sedikit membuat jarak larinya terbatas.

“Tung! Ojo! Diseneni Pak Mandor mengko!”

“Alah! Wis to! Tenang aja. Cuma batang sebesar ini!” Untung memperlihatkan lengan tangannya yang kurus.

“Iya! Tapi, itu masih nempel di pohon. Dilarang!” cegah Sarji sekali lagi.

Untung mendengus kesal. Dia mendorong bahu Sarji dengan bahunya. Sarji selangkah terhuyung ke belakang. Sarji segera memeluk ikatan ranting miliknya.

Untung mengeluarkan kapak kecil dari tempatnya, sebuah kain yang dibelitkan. Dia memanjat pohon dengan gesit. Tidak sampai hitungan menit, tangannya telah menyentuh batang pohon incarannya. Dia segera mengayunkan kapak kecilnya, perlahan menebas kulit batang lalu ke kambium.

            Sarji menoleh kiri-kanan, was-was kalau Pak Mandor datang. Dia memperhatikan Untung yang masih semangat.

            “Lekas, Tung!” teriak Sarji. Kecemasan benar-benar nyata di wajahnya.

            “Sedilut meneh! Sabar po’ o!” respon Untung dari atas pohon.

            “HEI!” Gelegar sebuah suara. [bersambung]

Glossary

Ojo          : Jangan

Diseneni   : Dimarahi

Mengko    : Nanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: