Sesat

jejak edisi 04

Anda pernah mengikuti program “mencari jejak” dalam rangkaian kegiatan pramuka waktu masih sekolah? Pernahkah tersesat jalan karena tidak mengikuti rute yang dibuat dan ditentukan oleh panitia? Atau mungkin tersesat karena petunjuk jalannya disesatkan oleh seseorang atau pihak lain? Jika pernah, bagaimana rasanya? Selain tujuan menjadi tak jelas karena rute yang ditempuh tak sesuai ketentuan, kita juga kehilangan banyak waktu, tenaga, dan mulai dihinggapi rasa cemas dan pesimis: “Jangan-jangan, kita tak akan sampai di tempat tujuan akhir yang benar dan sebenarnya.”

            Hidup kita di dunia pun sebenarnya pasti butuh petunjuk. Butuh pula standar petunjuk mana yang akan digunakan untuk menjalani kehidupan agar tak tersesat di dunia dan tentunya berharap selamat sampai pada tujuan akhir, yakni di akhirat kelak.

            Kita, kaum muslimin sebenarnya sudah punya petunjuk yang pasti kebenarannya, yakni al-Quran. Bahkan para ulama menjabarkan, jika pun tidak ditemukan di al-Quran secara jelas, sebuah petunjuk bisa dicari di as-Sunnah. Jika al-Quran dan as-Sunnah tak ada indikasi untuk mengetahui petunjuk secara detil, kita masih bisa mencarinya pada Ijma Shahabat dan Qiyas. Itu artinya, kaum muslimin memiliki sumber hukum yang banyak untuk memandu kehidupannya agar tak tersesat.

            Jamaah Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh fatwa MUI berdasarkan standar ajaran Islam, ternyata menimbulkan protes banyak kalangan, termasuk dalam hal ini adalah Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) melalui rapatnya yang diselenggarakan di Kejaksaan Agung, Selasa, 15 Januari 2008 lalu memutuskan untuk tidak melarang kelompok Ahmadiyah.

            Kelompok lain, terutama para pejuang HAM dari kalangan kaum muslimin yang liberal berkeras mengecam fatwa MUI yang menyatakan sesat terhadap banyaknya aliran sempalan dalam Islam, termasuk Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Alasannya, fatwa tersebut melanggar hak asasi manusia untuk kebebasan berpedapat, berkelompok, dan berkeyakinan sembari menggembar-gemborkan bahwa pemerintah atau siapa pun tak boleh mengurusi masalah keyakinan/agama karena hal itu merupakan urusan pribadi.

            Inilah ironinya HAM dan demokrasi. Di satu sisi membiarkan kebebasan berpendapat, tetapi jika pendapat itu melawan dan mengancam HAM dan demokrasi, mereka akan memasungnya. Itu sebabnya, fatwa MUI dihujat, sementara aliran sesat semacam Jamaah Ahmadiyah malah dibela. Padahal sudah jelas kesesatannya menurut ajaran Islam. Siapa sebenarnya yang sesat dan tersesat? [rahadi]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: