“Bisnis Cinta” Valentine’s Day

jejak edisi 03
Bulan Februari identik dengan bulan merah jambu, bulan cinta, karena di bulan inilah Valentine’s Day berada. Tanggal 14 Februari, tanggalnya Valentine’s Day (VD) menjadi tanggal kramat bagi para manusia untuk menyatakan cinta.

Entah bagaimana sejarahnya bahwa tanggal tersebut dijadikan momen yang begitu sakral. Banyak sumber yang mengisahkan dengan beragam versi yang berkembang, dan yang berikut adalah salah satunya.

Sekilas sejarah Valentine’s Day
Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St. Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St. Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya. Claudius II melihat St. Valentine mengajak manusia kepada agama Nasrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya.

Dalam versi kedua, Claudius II memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St. Valentine menentang perintah ini dan terus mengadakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan. Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “yang tulus cintanya, Valentine”. Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nashrani bersama 46 kerabatnya.

Versi ketiga menyebutkan ketika agama Nasrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini”. Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat “dengan nama tuhan Ibu” dengan kalimat “dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nasrani.

Sudah jelas, apapun versinya, bagaimana pun kisahnya, VD bukan berasal dari Islam. Sudah jelas juga bahwa Islam melarang umatnya untuk ikut-ikutan perayaan umat lain. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Kalau sudah ada larangan keras seperti itu udah deh stop. Jangankan untuk melakukan, berpikir pun jangan. Kalau masih nekad juga? Bahaya!
Eit! Tapi ngomong-ngomong soal bahaya, ada bahaya lain yang nggak kalah seram dari perayaan Valentine. Apa, tuh?

Awasi dompetmu saat Valentine’s Day!
Tahu nggak sih? Kalau saat VD adalah saat bagi para pemilik uang dan pelaku bisnis untuk mengeruk keuntungan yang besar. Lihat aja, pas VD di berbagai pusat perbelanjaan berbagai produk khas Valentine digelar: boneka, bunga, coklat, kartu. Wuih! Nggak cuma di kota besar semacam Jakarta, tapi juga sampai daerah. Contohnya di kota Mataram. Di VD tahun 2007 lalu sebenarnya Walikota Mataram sudah melarang perayaan VD di sekolah-sekolah, tapi tetap saja di luar sekolah merah jambunya VD merambah.

Hotel-hotel bikin acara. Radio dan televisi lebih heboh lagi. Semua harus dibuat pink! Cinta di mana-mana!

Padahal, tahu nggak sih? Ternyata itu akal-akalan para kapitalis jualan. Promosi Valentine bisa mendongkrak jumlah kunjungan ke kafe, hotel, atau tempat-tempat hiburan lainnya. VD di radio dan televisi bisa mendatangkan bejibun pengiklan. Menurut Effendi Gazali, dalam bisnis media, raja yang sebenarnya adalah pengiklan. Jika ‘Sang Raja’ tidak mau menempatkan iklan di acara-acara mereka, itu adalah awal kiamat bagi sebuah stasiun TV atau radio. Itu sebabnya, tak heran kalau pas Ramadhan semua media menayangkan acara-acara yang nyerempet-nyerempet puasa dan moral (nyerempet karena emang nggak sepenuh hati sih!).

Nah, kalau pas VD ya kemasan acara harus full pinky alias Valentine banget, mulai dari sinetron, acara gosip, box office on TV, dan banyak lagi. Yang untung? Yang jualan dan yang masang iklan. Yang rugi? Ya, kita-kita yang beli. Uang kita disedot habis-habisan untuk sesuatu yang sebenarnya ilusi.

So, hati-hati dan mawas diri lah. Hari gini, jadi muslim masih mau aja dikibulin? Nggak deh, ya. Nggak kita banget gitu loh!

Jauhi bahayanya, rengkuh cinta sesungguhnya
Bahaya pertama, VD jelas bukan berasal dari Islam. Kalau masih nekad juga untuk ngerayain berarti nantangin dosa. Firmah Allah Swt. : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS al-Isra [17]: 36)

Bahaya kedua, VD mendorong kita mengeluarkan uang di jalan yang tak bermanfaat. Uang sepuluh ribu untuk setangkai mawar lebih baik disumbangin buat kegiatan sosial, nyumbang masjid, untuk kegiatan dakwah, atau buat yang masih sekolah ditabung deh untuk sedikit meringankan beban orangtua. Kan, pastinya lebih guna. Manfaat di dunia, pahala dapat juga! Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS al-Isra [17]: 27)

Kalau kita bisa menjauhi bahaya di atas, cinta abadi pasti kita bisa miliki. Kita taat kepada ketetapan Allah Swt., maka Dia akan makin cinta. Kalau Allah sudah cinta, maka hidup pun akan terasa indah, indah yang sesungguhnya. Mau dong? [nafiisah fb]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: