Ranting

jejak edisi feb 2008
Oleh: Nafisah FB

Angin malam yang berhembus semilir membuat mata Sarji sebentar menutup. Sedetik kemudian matanya membuka lalu menutup lagi. Dia terkantuk lalu terlelap  sekejap. Pensilnya menyusul terhempas dari tangannya.

Seorang wanita berusia sekitar 30-an menghampiri pintu kamar Sarji yang terbuka. Lastri, wanita itu, menatap Sarji yang telah terlelap itu dengan senyum.

“Sarji sudah tid ….” Suara seorang pria hendak bertanya.

“Sssst.”

Lastri menempelkan telunjuk tangan kanannya ke bibirnya. Seorang pria yang baru saja tiba tadi berhenti bersuara.

“Dia sudah tidur.” Lastri memberitahu.

Pria itu menoleh ke arah Sarji. Anak berusia enam tahun itu menangkupkan kepalanya di atas meja belajarnya. Bukan meja belajar yang sesungguhnya, hanya beberapa balok kayu dan papan yang disusun dan dipaku seadanya.

“Kang Firman pindahin Sarji ke atas tempat tidur. Biar aku yang tutup jendelanya.”

Lastri menuju jendela kayu, sedangkan Firman, pria yang dia sebut ‘Kang’ itu itu beranjak dari ambang pintu menuju tubuh mungil Sarji. Dia mengangkat Sarji ke atas pembaringan.

Sarji telah berada di atas tempat tidur. Nyaman … tanpa beban. Firman dan Lastri memandangi wajahnya sebentar.

“Si Tole sepertinya cape’ banget ya, Kang. Kasihan.” Lastri mengelus pipi tembem Sarji.

“Kalau gitu besok dia nggak usah dulu bantu cari kayu bakar,” ucap Firman menenangkan.

Dia tersenyum kepada Lastri. Begitupun Lastri kepada Firman. Mereka beranjak dari sana setelah dipastikan Sarji nyaman dalam tidurnya.

oooOooo

            “Nanti pulang sekolah kita main ya, Ji?”

Sarji menoleh ke bocah kurus di sampingnya. Dia menggelengkan kepala.

“Aku ndak bisa, Tung”

“Loh, kenapa?” tanya Untung, bocah kurus itu.

“Aku harus bantu Bapak. Aku arep nggolek kayu ning alas.”

“Kalau gitu aku bantu!”

Sarji mengangguk, tersenyum. “Boleh!”

“Yes!” seru Untung dengan lagak wong londo. Tangannya yang mengepal dihentakkan.

Untung nyengir lebar memperlihatkan ruang di deretan giginya bagian depan  yang kosong. Giginya kemarin tanggal dua. Sarji hanya tertawa melihat lagaknya.

Dua bocah SD kelas satu itu terus berjalan beriringan di sepanjang pematang sawah. Pagi itu mereka menuju sekolah yang jaraknya tiga kilometer dari rumah mereka. “Hanya tiga kilometer,” itu yang selalu Sarji katakan kalau ada temannya yang orang kota menyampaikan belas kasihan.

oooOooo

Sarji melangkah tergesa menuju kamarnya. Tasnya diletakkan segera di atas meja. Lastri melangkah, menyusul menuju kamarnya.

“Mak! Sarji cari kayu bakar dulu!”

Sarji berteriak dari dalam kamar. Dia sedang mengganti kemeja seragam sekolahnya dengan kaos lusuh, seragam dinasnya.

“Kamu ndak usah cari kayu bakar hari ini, Le,”ucap Lastri setibanya dia di pintu kamar Sarji.

Sarji menolehkan kepala kepada emaknya. Keningnya mengerut.

“Memang kenapa, Mak?” tanya Sarji sambil menghampiri Lastri.

“Bapakmu bilang hari ini kamu cuti,” jawab Lastri tersenyum sambil menggandeng tangan Sarji menuju meja makan.

“Cuti? Cuti iku opo, sih, Mak? Ooh, kaya’ Lek Gino waktu itu datang ke sini ya, Mak? Dia bilang liburan karena dapat cuti. Berarti cuti itu libur. Iya, Mak?” cerocos Sarji sambil terus mengikuti langkah Lastri menuju  meja makan.

“Iya,” jawab Lastri singkat.

“Lho, kalau gitu siapa yang cari kayu bakarnya?” tanya Sarji sambil duduk menghadap meja makan.

Lastri memberikan piring kepada Sarji. Sarji segera menyenduk nasi dari tempatnya. Setelah itu dua potong tempe dan kuah sayur sop diambilnya untuk menemani nasi.

“Bapakmu yang cari. Habis dari sawah, langsung cari kayu bakar,” ucap Lastri sambil menyiapkan rantang untuk makan siang bapaknya Sarji.

Sarji berhenti memindahkan nasi ke mulutnya. Lastri menoleh. Dia melihat wajah murung putranya.

Ene opo, Le? Kok, berhenti makan?”

“Kasihan Bapak, Mak,” lirih suara Sarji.

Lastri tersenyum. Tangan meraih kepala Sarji dan mengusap lembut rambut ikalnya. Rambut ikal milik Firman.

“Bapakmu laki-laki. Dia kuat.”

“Sarji juga laki-laki, Mak! Sarji kuat!” pekik Sarji cempreng sambil bangkit dari duduknya. Matanya tajam menatap Lastri.

Lastri terkejut. Sarji tidakmenunggu emaknya kembali berbicara. Dia segera meraih rantang dan berlari keluar rumah.

“Eh, Le! Tole! Sarji!” panggil Lastri lantang.

“Sarji ke sawah, Mak!” jawab Sarji di kejauhan, tidak kalah lantang.

Lastri hanya menghela nafas panjang. Ada syukur yang dia panjatkan untuk putranya yang berbakti. Namun, rasa nelangsa yang mendalam tidak bisa dia abaikan.

“Ya, Allah, Gusti. Sampai kapan anakku ikut berjuang seperti ini. Belum saatnya buat dia, ya Allah. Belum saatnya. Dia masih terlalu kecil.”

Cairan bening itu sedetik kemudian meluncur dari dua mata Lastri. Dia menyekanya walaupun dia tahu itu tidak akan membuatnya  sirna. [bersambung]

Glosary:

Nggolek : Mencari

Alas        : Hutan

Tole        : Sebutan untuk anak laki-laki di Jawa Timur/Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: