Globalisasi Cinta

Jejak edisi Februari 2008 

Dunia saat ini dipenuhi dengan globalisme, informasi, hiburan, dan komersialisme. Kritikus Lorraine Gam­man dan Marga­ret Marshment, keduanya pe­nyunting buku “The Female Ga­ze: Women as Viewers of Popu­lar Culture (1998)”, berse­pakat bah­wa bu­daya popu­ler adalah sebu­ah medan pergu­latan ketika me­ngemukakan bah­wa tidaklah cu­kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu­daya populer se­bagai alat kapi­talisme dan pat­riarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugat­nya ideologi dominan.

Sebenarnya ukuran populer bagi budaya populer itu sendiri juga bersifat kualitatif dan serba relatif. Ukurannya tak ada yang baku. Tapi yang jelas, pop culture faktanya adalah budaya dan gaya hidup yang banyak disukai orang. Alasan disukai? Bisa saja disukai karena memang dibutuhkan, juga disukai setelah mendapat “komporan” dari pihak lain sehingga jadi terpaksa menyukai. Saat ini sebagai besar dari kita tunduk pada logic of capital, logika proses produksi, di mana hal yang dangkal dan cepat ditangkap itulah yang cepat laku. Itu sebabnya, Valentine’s Day (VD) menjadi sarana penyebaran globalisasi produk gaya hidup dan bisnis berlabel cinta yang sangat efektif.

Dan, hampir bisa dipastikan bahwa perempuan (khususnya remaja putri) adalah pasar potensial dalam proses produksi jenis budaya populer mana pun. Maka, jangan terlalu heran jika produk VD ditujukan dengan sangat jelas kepada pasar perempuan ketimbang pasar lelaki: coklat, boneka, lipstik, bedak, perona pipi bernuansa warna tertentu, gaun pink, tas kecil pink, bando, jepit rambut pink, aneka rupa sepatu dan sandal bernuansa pink, dll.

Nah, perpindahan rupiah dari pembeli ke penjual produk-produk Valentine’s diprediksi bakal mengalahkan transaksi pembelian minyak tanah dan sembako. Ini ironi, di tengah kemiskinan yang kian menjadi-jadi karena harga-harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik, tapi atas nama hajatan cinta sejagat bernama VD, produknya harus (bahkan seperti wajib) untuk dibeli kemudian dirayakan meski tak pernah tahu asal-usul VD tersebut. Menyedihkan!

Kita wajib mewaspadai, bila perlu mencurigai, bahwa globalisasi cinta atas nama pesta VD ini adalah sebuah rekayasa dari ideologi liberal sekularisme-kapitalisme, yang selain memasarkan gaya hidup hedonis-permisif (pemuja kebebasan materi dan jasadi, serta bebas nilai), juga menjual produk yang keuntungannya jelas fulus alias duit. Jika kita termasuk golongan yang terbius dengan kampanye globalisasi cinta ala VD, berarti ada dua kerugian yang kita dapatkan: ternodainya gaya hidup kita dengan gaya hidup khas Barat yang liberal, dan menguapnya duit yang kita punya, bahkan sangat boleh jadi, segitu-gitunya yang memang kita punya.[rahadi]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: