Otda dan Ancaman Persatuan

Jejak edisi 02/Januari 2008
Ancaman perpecahan sedang mengintai bangsa ini. Berbagai daerah berlomba memekarkan diri, seiring dengan era otonomi daerah. Mulai wilayah setingkat provinsi, kabupaten, kota hingga desa. Tak heran bila negeri ini semakin terkerat-kerat, bahkan berkeping-keping ibarat sobekan kertas. Sungguh kasihan pembuat peta, setiap saat harus mengganti cetakannya karena batas-batas wilayah cepat sekali berubah. Para pelajar pun terpaksa harus mengup-grade terus hapalan geografinya. Penulis sejarah pun dituntut merevisi terus buku-bukunya.

Upaya pemekaran wilayah itu senantiasa mengatasnamakan rakyat. Demi pemerataan. Demi kesejahteraan. Demi keadilan. Maka, dengan tameng otonomi daerah atau otonomi khusus, sejengkal demi sejengkal tanah negeri ini berdiri, bangkit menuntut kemandirian. Sayang, kemandirian yang diidamkan cenderung kebablasan. Akibatnya, Papua di ambang kemerdekaan, Aceh terus bergejolak dan Maluku minta merdeka. Sungguh berbahaya. Otonomi daerah ibarat menggali lubang kuburan bagi sejengkal demi sejengkal bagian wilayah nusantara.

Apakah Timor-Timur yang “merdeka” menjadi Timor Leste tak cukup jadi pelajaran? Sebuah
kemerdekaan semu. Alih-alih rakyatnya sejahtera, menentukan nasib sendiri pun tak mampu. Mantan si bungsu itu malah jadi “jajahan” sekaligus “jarahan” negara-negara asing. Begitulah, otonomi tak ubahnya sebuah fatamorgana.

Kesejahteraan, keadilan dan kesatuan bangsa bukanlah ditentukan luas-sempitnya wilayah, atau kaya-miskinnya daerah itu. Melainkan sistem seperti apa yang diterapkan yang mampu mendistribusikan kekayaan dengan adil. Otonomi daerah yang masih saudara kandung dengan
sistem federalisme, tak lain derivat dari sistem kapitalisme sekular. Sistem ini terbukti tak mampu
menjadi landasan bagi terwujudnya kesejahteraan dan keadilan seluruh masyarakat. Sistem tersebut harus segera diganti dengan sistem berbasis ideologi yang shahih, yang mampu mensejahteraan umat manusia seluruhnya, lahir dan batin. Itulah ideologi Islam.

Ironisnya, ketika wacana penerapan Islam menguat, justru Islam difitnah sebagai ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Aneh dan tidak logis. Sebaliknya, mereka yang mengaku paling nasionalis, justru nyaring membela mati-matian berbagai upaya yang mengancam perpecahan bangsa. Atas nama budaya, katanya. Tari Cukulele yang mengibarkan bendera RMS dipandang sebelah mata. Pengibaran bendera OPM juga bagai angin lalu. Lantas, apakah perang suku dimana antarwarga saling bunuh di Papua atau Carok berdarah di Madura yang juga merupakan budaya asli masyarakat layak dipertahankan sebagai ikon pemersatu bangsa? Sungguh naif. [asri]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: