Balada Upik Abu dan Betty La Fea [2]

Jejak edisi 02/Januari 2008

By: Nafiisah FB

Upik Abu menatap langit-langit dan berucap,”Walaupun kita juga pintar.”

“Tapi, ga cantik.” Betty La Fea menghela nafas panjang.

“Walaupun kita juga punya kemampuan, keahlian,” ucap Upik Abu dalam suara yang mulai sendu.

“Tapi kita enggak CAN-TIK,” kata Betty La Fea menambah sendu.

“Padahal kita juga ….”

“Iya ! Tapi, kita enggak cantiiiiik!!!!!”

Upik Abu meloncat dari posisi duduknya. Dia mengusap-usap telinga kanannya yang pengeng. Sekarang dia berdiri menatap Betty La Fea yang tampak bernafas tersengal menata emosinya.

“Assalamu’alaikum! Pecel, Mbak!”

Suara di luar rumah menyela kemarahan Betty La Fea. Dia segera sadar perutnya keroncongan.

“Iya, Mbak! Tunggu!”

Betty La Fea mengecek uang di kantung celananya dan segera berjalan cepat menuju Mbak Pecel. Upik Abu mengikuti langkahnya.

Upik Abu terhenyak ketika beradu mata dengan Mbak Pecel. Dia lalu membisikkan sesuatu kepada Betty La Fea. “Lo mau tahu orang cantik yang sebenarnya? Dia ada di hadapan lo sekarang.”

Betty La Fea mengerutkan kening lalu perlahan menolehkan kepala ke arah Mbak Pecel yang sedang sibuk menata isi pecel. Dia memperhatikan Mbak Pecel dari atas sampai bawah, dari bawah lalu kembali ke atas.

Sosok sederhana dengan kerudung dan jilbab yang menambah kesahajaannya. Kulit sangat tipikal orang ras melayu cenderung gelap malah. Wajah jelas bukan saingan Tamara Blezinski atau Dessy Ratnasari.

“Mbak. Pecelnya satu lagi,” pesan Upik Abu.

Mbak Pecel mengangguk lembut sambil menyerahkan pincuk pecel kepada Betty La Fea. Betty La Fea menerima tanpa memutus urai tanya di pikirannya.

Wajahnya yang berminyak ditimpa sinar matahari jelas bukan kriteria Putri Sampo Paten yang baru ditontonnya. Tapi, kenapa Upik Abu percaya diri mengatakan Mbak Pecel itu contoh cantik yang sebenarnya?

“Mbak, jualan pecel sejak kapan? Kenapa jualan pecel? Enggak nyoba kerja yang lain?” tanya Upik Abu tanpa bermaksud iseng.

Mbak Pecel memperlihatkan senyum lembutnya. Dia menyerahkan pecel pesanan Upik Abu.

“Sejak lulus SMP, tiga tahun lalu. Jualan pecel begini karena yang saya bisa ya jualan seperti ini. Kasihan Emak kalau saya nganggur. Pengen juga sih kerja yang lain, tapi kan perlu modal. Harus bisa akuntansi, bahasa Inggris, atau komputer. Makanya, saya dikit-dikit nabung biar bisa kursus.”

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam. Eh, Nyak Haji!” jawab Betty La Fea.

“Iya, nih, Bet. Enyak dari tadi nyariin Marni. Tahunye die di sini!” info Nyak Haji sebelum dia beralih ke Mbak Pecel eh Marni.

“Mar, jangan lupa, ye. Habis ini elo ke mesjid. Enyak mau ngenalin elo ke anak-anak remaja mesjid!”

“Iya, Nyak Haji.”

“Si Marni ini yang entar bakal gantiin Mbak Hanum, Bet. Mbak Hanum kan bakal pindah ke Palembang ikut suaminye ke sana. Nah, Si Marni dah yang ditunjuk ngegantiin buat ngebina remaja mesjid. Kalau Betty enggak sibuk entar boleh juga ikut. Eh, Enyak pergi dulu ye. Babe ude nungguin ikan asin nih. Mar, elo sekalian aje ikut Enyak ke rume dulu. Enyak mau minta ajarin resep elo yang kemaren.”

“Iya, Nyak.”

“Eh, sebentar. Uang pecelnya!” cegah Betty sebelum Marni dan Nyak Haji beranjak pergi.

“Ude kagak usah. Entar Enyak yang bayarin. Sekali-kali ibu kost nraktir anak kost engak ape-ape kan? Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam!” jawab Betty La Fea dan Upik Abu serempak. Mereka berdua menatapi langkah-langkah Marni yang tegak tanpa ragu dengan wadah pecel terbeban di bahu.

“Cantik yang sesungguhnya.” Upik Abu haru melihat pecel di tangan.

“Ternyata lebih indah.” Betty La Fea lirih membalas ucapan.

Kemudian mereka berdua perlahan tersenyum saling memandang. Sosok para Putri Sampo Paten perlahan menghilang, karena kini berganti dengan … rasa lapar J. Betty La Fea dan Upik Abu segera kembali ke dalam untuk melahap pecel buatan Putri Cantik Sesungguhnya. [SELESAI]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: