Balada Upik Abu dan Betty La Fea

Jejak 01/Desember 2007
By: Nafiisah FB

Hari Minggu itu Betty La Fea sedang menonton televisi. Seorang diri dia menikmati tiap detik kebersamaannya dengan kotak ajaib itu. Tidak ada suara-suara bisik-bisik berisik Patricia and The Rumpi Genk. Tidak terdengar celotehan Christina yang bisa berpanjang melebihi jarak lokomotif dengan ujung gerbong kereta dan berlebar menyaingi stadion sepakbola.

Sepi … sunyi …. aaaah senangnya. Para penghuni kost Beauty sedang pergi menghabiskan libur panjang. Betty La Fea sumringah menyeruput teh manis yang sengaja dibuat spesial oleh dirinya untuk dirinya. Matanya tidak dilepaskan dari tontonan ala layar kaca.

Para wanita cantik dari seluruh penjuru negeri berjalan anggun ke atas panggung. Busana mereka yang bersilau membuat Betty La Fea semakin terpukau. Kedua mata di balik kacamata tebal enggan mengedip. Gemuruh tepuk tangan hadirin yang banyak diundang dari kalangan pesohor dunia tidak urung membuat Betty La Fea mengkhayal seketika.

Peri Baik Hati turun ke bumi dan menolong Itik Buruk Rupa yang budiman berubah mejadi Putri Cantik. Satu hentakan tongkat dan satu kelebat cahaya membuat Itik Buruk Rupa berubah menjadi Putri Cantik.

Pangeran Tampan mendengar keberadaan Putri Cantik. Seorang belahan jiwa segera terpampang di pelupuk matanya. Pangeran Tampan segera berkuda menuju dambaan jiwa.

Setibanya di hadapan Putri Cantik, Pangeran Tampan segera mengutarakan kata hati. Putri Cantik diam sesaat, memberikan kesempatan kepada pikiran dan perasaannya berdiskusi. Detik demi detik berlangsung di tengah penantian Pangeran Tampan. Sampai saatnya Putri Cantik akan mengumumkan keputusannya. Pangeran siap mendengarkan Putri Cantik mengucapkan, “Saya ….”

“Hei! Siang bolong ngayal aja!”

Putri Cantik tergagap sejenak lalu … perlahan wujudnya menghilang. Seraut wajah marah menoleh ke arah suara yang mengagetkannya.

“Eh, Bet. Kenapa lo?!” tanya suara itu lagi.

Di hadapan Betty La Fea telah berdiri seorang cewek tinggi, kurus, berkulit putih dengan wajah penuh acne. Di kaus yang sedang dikenakannya jelas terpampang tulisan “Gua Enggak Takut Jerawat, Karena Jerawat Biar Pak Lek Boy yang Ngerawat”.

“Kenapa, kenapa! Elo nggak liat gua marah. Upik Abu! Elo udah ngerusak khayalan terindah dalam hidup gua! Udah masuk nggak pake’ salam lagi!” teriak Betty La Fea membabi buta.

Betty La Fea tidak pura-pura dengan kegeramannya. Kawat gigi sekuat baja pun ditampakkannya.

“Calm down, Sis. Calm down. Elo pasti lagi di puncak depresi gara-gara nonton kontes Putri Sampo Paten 2007 itu, tuh. Ngapain juga sih nonton pake diseriusin gitu. Santai aja lagi,” ujar Upik Abu sambil merebahkan bahu di sofa tempat Betty La Fea melabuhkan tubuh sejak tadi.

“Elo sih enak aja ngomong begitu. Masalah lo kan cuma jerawat! Jerawat lo ilang elo bisa kayak mereka tuh.” Betty La Fea menunjuk ke arah tivi dengan sinis..

Upik Abu tertawa terkekeh. “He..he..he… Iya, setelah para jerawat ini menempuh 100 tahun perjalanan kehidupan.”

Betty La Fea masih merengut ketika Upik Abu berkata lanjut, “Eh, tapi katanya modal mereka yang ikut kontes itu nggak cuma fisik.”

“Tapi, mereka cantik. Lihat dong,” tanggap Betty La Fea

“Mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit,” lanjut Upik Abu.

“Dan mereka cantik!” tegas Betty La Fea.

“Mereka diminta unjuk bakat. Berarti mereka punya kemampuan,” kejar Upik Abu.

“Dan mereka cantik! Udah, deh lihat aja faktanya. Gue, elo, kita harus siap ngadepin fakta bahwa cantik itu yang pasti diliat duluan!” argumen Betty La Fea dengan sewot. [bersambung…]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: