A Great Mother For A Great Leader

Jejak 01/Desember 2007
Abdullah bin Zubair adalah sosok yang telah menjadi pahlawan dalam pembebasan Afrika, Andalusia, dan Konstantinopel dalam usianya yang belum menginjak 17 tahun. Satu kali Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Rasulullah saw. pernah ditanya tentang Abdullah bin Zubair. Ibnu Abbas berkata, “Ia adalah pembaca Kitabullah dan pengikut sunnah RasulNya, tekun beribadah kepadaNya dan shaum di siang hari karena takut kepadaNya. Dialah putera dari seorang pembela Rasulullah, dan ibunya adalah Asma’ puteri Abu Bakar ash-Shiddiq…”

Setelah Yazid bin Mua’wiyah bin Abu Sufyan meninggal dunia, Abdullah diangkat menjadi khalifah oleh sebagian besar negeri-negeri seperti Hijaz, Yaman, Irak, dan Khurasan. Abdullah bin Zubair menjabat sebagai khalifah selama sembilan tahun di Hijaj sampai kekuasaannya ditumbangkan oleh ‘keserakahan’ bani Umayyah.

Itulah Abdullah bin Zubair, salah seorang sahabat Rasulullah saw, salah seorang khalifah yang begitu cinta kepada rakyatnya, jujur, sederhana, teguh kepada al-Quran dan sunnah, dan tegas dalam menyirnakan kebatilan.

Sosok Abdullah bin Zubair yang agung dan mulia tidak lepas dari sosok Asma’ binti Abu Bakar ash-Shiddiq, ibundanya. Dia termasuk dalam barisan wanita yang pertama masuk Islam. Perjuangannya dalam kancah pergolakan Islam di masa permulaan perkembangannya tidak diragukan lagi. Dialah yang senantiasa mengirim makanan untuk Rasulullah dan ayahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq ketika beliau bersembunyi selama tiga hari tiga malam di gua Tsur dari kejaran kaum musyrik Makkah yang ingin membunuh beliau.

Sosok-sosok pemimpin seperti Abdullah bin Zubair, atau Umar bin Abdul Aziz di era selanjutnya adalah sosok pemimpin dambaan. Keteguhan mereka kepada kitabullah dan sunnah Rasululllah saw., sikap mereka yang mendahulukan kepentingan rakyat dan bersahaja dalam kehidupan diri mereka sendiri, jujur, dan adil merupakan contoh abadi bagi umat yang hidup di masa setelahnya.

Di tengah carut-marut kehidupan, dalam ketidakadilan yang semakin menyebar, umat saat ini sangat merindukan hadirnya kembali pemimpin-pemimpin seperti itu. Adakah pemimpin-pemimpin itu saat ini, nanti?

Kisah Abdullah bin Zubair di atas menjadi salah satu pelajaran berharga dari sekian banyak kisah lainnya, bagaimana sosok wanita bernama ibunda menjadi sosok penting dalam mencetak seorang pemimpin.

Pemimpin dengan kualitas prima: teguh menegakkan hukum Allah, adil, jujur, amanah, rela berkorban, dan bersahaja, tidak bisa lahir secara instan. Ada proses panjang yang mesti dilalui. Ada usaha yang mesti ditempuh, dan itu semua dimulai dari seorang ibu.

A great mother: siapa dia?

A great mother (ibu yang luar biasa) itu, pertama, ia wajib memiliki kepribadian Islam. Yaitu menjadikan akidah sebagai standar dalam berfikir dan berbuat. Akidah yang lurus adalah Islam. Islamlah yang senantiasa dijadikan ukuran halal atau haramnya sesuatu untuk dikerjakan atau ditinggalkan. Kedua, cerdas. Adalah seorang ibu yang memiliki tsaqafah Islam dan berpengetahuan yang luas, sehingga mampu menjadi tempat bertanya dan curhat yang komplit bagi anak-anaknya dan lingkungannya. Ketiga, peduli. Fitrahnya hidup manusia itu adalah saling memberi dan saling menerima. Manusia butuh terhadap manusia lainnya. Di situlah letak kepedulian, dan kepedulian yang sejati adalah bentuk kepedulian seorang muslim kepada nasib saudaranya yang lain, mulai dari lingkungan terkecil, hingga mereka yang di belahan dunia yang lain.

How to be a great mother?

Untuk menjadi ibu yang istimewa, ada beberapa yang secara teknis bisa dilakukan. Pertama, thalabul ‘ilmi (belajar). Proses belajar dan menuntut ilmu tidak hanya sebatas di jalur formal, di sekolah, harus dilakukan sepanjang hayat dikandung badan, dan harus seimbang antara Islam dan pengetahuan.

Kedua, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki keinginan dan visi yang sama, supaya semangat terus bisa dipelihara.

Nah, menjadi sosok ibunda yang berkualitas tentu bukan pekerjaan mudah. Prosesnya pun tidak singkat. Seorang Asma’ binti Abu Bakar, seorang Fathimah binti Muhammad, Ummu Ashim, dan para “ibunda peradaban” lainnya memulai proses itu ketika mereka masih berada di tengah orangtua mereka dan terus berlangsung setelah mereka menikah dan membesarkan sang buah hati. Jika mereka bisa, maka ibunda kini dan nanti pun bisa. Tentu, lahirnya sosok pemimpin agung nan mulia itu akhirnya akan hadir kembali memimpin dunia dengan syariahNya. Wallahu a’lam bish showab. [nafisah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: