Arsip untuk ‘Cerita’ Kategori

Ranting

April 9, 2008

[bagian 3]

Oleh: Nafisah FB

Sarji terkesiap. Untung menghentikan aksinya mendadak. Mereka perlahan melihat ke arah yang sama. Pak Mandor ternyata telah berdiri bertolak pinggang dengan telunjuk kirinya menuju mereka.

Sarji gemetar. Ikatan ranting ditangannya ikut bersuara. Untung menjatuhkan kapak kecilnya ke tanah dan segera meluncurkan tubuhnya dari atas pohon bumi.

“Lari!” teriak Untung. Tangannya meraih tangan Sarji.

Ikatan ranting terlepas seiring ranting yang terhempas. Sarji tidak sengaja melakukan. Refleks. Tangannya yang satu tidak kuat memeluk ranting saat tangannya yang lain ditarik Untung. Kaki-kakinya berlari mengikuti jejak lari Untung.

“Tung! Kayu bakarku!” teriak Sarji panik. (lagi…)

Ranting [2]

Maret 17, 2008

 jejak edisi 04 [bagian 2]

Oleh: Nafisah FB

“Wah, gimana ini, Pakde?! Masa’ yang sudah jelas nebang pohon enggak pake’ ijin bisa bebas?!”

Ngatno menghentakkan telapak tangan kanannya ke atas lembaran koran. Tangannya yang lain sedang memegang rantang plastik tempat makan siangnya.

“Bisa habis hutan kita! Nanti, yang disalahkan kita-kita, petani. Gitu?” Ngatno melanjutkan sambil tangannya menyuap nasi ke mulutnya.

Pakde Danu yang sedang menghirup kopi menengok ke Ngatno. Firman baru saja akan membuka rantang yang baru diantar Sarji.

Pakde Danu mengambil surat kabar dari hadapan Ngatno. Dia membaca, “Mr. Adek Lin Ter Alis divonis bebas dari dakwaan illegal logging setelah hakim menilai semua berkas dan penjelasan para saksi tidak cukup menjadi bukti dakwaan.” (lagi…)

Ranting

Februari 4, 2008

jejak edisi feb 2008
Oleh: Nafisah FB

Angin malam yang berhembus semilir membuat mata Sarji sebentar menutup. Sedetik kemudian matanya membuka lalu menutup lagi. Dia terkantuk lalu terlelap  sekejap. Pensilnya menyusul terhempas dari tangannya.

Seorang wanita berusia sekitar 30-an menghampiri pintu kamar Sarji yang terbuka. Lastri, wanita itu, menatap Sarji yang telah terlelap itu dengan senyum.

“Sarji sudah tid ….” Suara seorang pria hendak bertanya.

“Sssst.”

Lastri menempelkan telunjuk tangan kanannya ke bibirnya. Seorang pria yang baru saja tiba tadi berhenti bersuara.

“Dia sudah tidur.” Lastri memberitahu. (lagi…)

Balada Upik Abu dan Betty La Fea [2]

Desember 23, 2007

Jejak edisi 02/Januari 2008

By: Nafiisah FB

Upik Abu menatap langit-langit dan berucap,”Walaupun kita juga pintar.”

“Tapi, ga cantik.” Betty La Fea menghela nafas panjang.

“Walaupun kita juga punya kemampuan, keahlian,” ucap Upik Abu dalam suara yang mulai sendu.

“Tapi kita enggak CAN-TIK,” kata Betty La Fea menambah sendu.

“Padahal kita juga ….”

“Iya ! Tapi, kita enggak cantiiiiik!!!!!”

Upik Abu meloncat dari posisi duduknya. Dia mengusap-usap telinga kanannya yang pengeng. Sekarang dia berdiri menatap Betty La Fea yang tampak bernafas tersengal menata emosinya.

“Assalamu’alaikum! Pecel, Mbak!” (lagi…)

Balada Upik Abu dan Betty La Fea

November 27, 2007

Jejak 01/Desember 2007
By: Nafiisah FB

Hari Minggu itu Betty La Fea sedang menonton televisi. Seorang diri dia menikmati tiap detik kebersamaannya dengan kotak ajaib itu. Tidak ada suara-suara bisik-bisik berisik Patricia and The Rumpi Genk. Tidak terdengar celotehan Christina yang bisa berpanjang melebihi jarak lokomotif dengan ujung gerbong kereta dan berlebar menyaingi stadion sepakbola.

Sepi … sunyi …. aaaah senangnya. Para penghuni kost Beauty sedang pergi menghabiskan libur panjang. Betty La Fea sumringah menyeruput teh manis yang sengaja dibuat spesial oleh dirinya untuk dirinya. Matanya tidak dilepaskan dari tontonan ala layar kaca. (lagi…)